Memahami paradigma riset melalui “tempe”: Ilmu tentang hidup dan kehidupan

Pendahuluan

Belum lama ini, istri saya punya ide untuk membuat tempe sendiri. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di luar negri, ngidam tempe kadang muncul tanpa kenal waktu dan tidak bisa langsung dapat. Apalagi setelah tahu kalau di Luksemburg tidak ada toko Asia yang jual tempe, rasanya tambah kangen saja (terkadang keterbatasan akses terhadap sesuatu itu membuat keinginan semakin bertambah). Pun kalau harus beli tempe, paling dekat harus ke kota negara tetangga di Trier, Jerman. Sebetulnya tidak jauh-jauh amat sih, cuma kami terlalu malas untuk pergi kesana. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami putuskan untuk bereksperimen. Singkat cerita, setelah semua peralatan lengkap, kedelai siap, dan tempeh starter (ragi) yang kami pesan dari Belgia datang, kami pun maju jalan.

 

Empat hari kemudian.

 

Tidak ada tanda-tanda kedelai yang kami bungkus akan berubah menjadi tempe. Hanya baunya saja yang menyengat, bentuknya tetap sama. Kami gagal membuat tempe.

Ternyata membuat tempe memang tidak gampang. Prosesnya cukup melelahkan dan butuh kesabaran dan ketelitian. Kami pun bertanya-tanya, “Apa yang salah ya?”

Karena tempe itu dibuat melalui serangkaian proses yang cukup panjang (dan memakan waktu), kami tidak tahu pasti bagian mana yang jadi biang keladi gagalnya pembuatan tempe. Bisa jadi karena merendam kedelainya kurang lama. Bisa jadi karena selaput kedelainya belum terkelupas dengan benar. Bisa jadi karena takaran raginya tidak pas. Bisa jadi karena inkubatornya kurang hangat atau kurang lembab. Bisa jadi karena kombinasi semuanya. Intinya, kami tidak tahu.

Tetapi hal tersebut membuat saya berpikir, “Bagaimana cara membuat tempe agar berhasil?”

 Membuat tempe agar seperti ini tampaknya masih menjadi cita-cita. Gambar pinjam dari  sini .

Membuat tempe agar seperti ini tampaknya masih menjadi cita-cita. Gambar pinjam dari sini.

Tiga paradigma riset

Sebagai mahasiswa yang pekerjaan sehari-harinya membaca tentang riset, kejadian tempe ini memudahkan saya dalam memahami apa itu paradigma riset. Secara umum, riset dapat dibagi dalam tiga paradigma: positivis, interpretivis, dan kritis. Masing-masing akan kita akan bahas lebih jauh sebagai berikut.

Positivis

Riset positivis berakar dari ranah ilmu pasti dan ilmu alam (natural science). Riset dengan paradigma ini biasanya meneliti tentang hukum sebab-akibat dan bertanya: “Faktor apa saja yang dapat menghasilkan Y?” atau “Bagaimana agar Y dapat dibuat secara lebih efisien?” atau “Bagaimana cara meningkatkan performa Y?”

Singkatnya, titik berat pada riset positivistik ini terletak pada hasil atau output. Karena itu pula, pendekatan metoda yang diterapkan pada riset ini adalah pendekatan kuantitatif, dimana sebuah model seperti: y = a + bx dapat dibentuk. Jika Anda menemukan model untuk membuat Y, maka saya pun bisa membuat Y dengan mereplikasi penemuan Anda. Sebagai konsekuensi, riset positivis sangat kuat dari segi objektivitas.

Kembali pada kasus tempe saya tadi, riset positivis ini sangat cocok dengan pertanyaan, “Faktor apa saja yang menyebabkan pembuatan tempe berhasil?” Disini kepentingan saya adalah hasil. Saya ingin tempe yang saya buat jadi.

Interpretivis

Pada sisi yang lain, riset dengan paradigma interpretivis lebih menekankan kepada makna. Artinya, riset ini bertujuan untuk menginterpretasikan makna dari sebuah fenomena. Berseberangan dengan paradigma positivis yang menerapkan pendekatan kuantitatif, paradigma interpretivis lebih condong menggunakan pendekatan kualitatif. Sehingga, riset menggunakan paradigma ini sangat cocok pada ranah ilmu sosial. Permasalahan yang dihadapi pun berbeda. Riset interpretivis tidak berurusan dengan hukum sebab-akibat, melainkan tentang bagaimana manusia memaknai situasi atau fenomena sosial. Pertanyaan yang muncul contohnya seperti: “Bagaimana abdi dalem Kraton Yogyakarta memaknai pekerjaan mereka?” atau “Bagaimana perilaku anak remaja dalam menggunakan media sosial online?”

Dimulai dengan pertanyaan tersebut, riset interpretivis berkepentingan untuk mendengar pendapat dari setiap subjek penelitian. Akibatnya, suara-suara subjektif setiap individu mendapat tempatnya sendiri dan semua suara memiliki teritori kebenarannya sendiri-sendiri. Disinilah kemudian terletak posisi penting si peneliti: pada akhirnya si penelitilah yang melakukan interpretasi atas jawaban-jawaban yang didapatkannya tersebut. Sehingga sebetulnya, interpretasi terdapat dalam dua tingkat: tingkat pertama tentang bagaimana sebuah fenomena itu ‘masuk akal’ menurut yang diteliti dan tingkat kedua tentang bagaimana fenomena tersebut ‘masuk akal’ menurut peneliti.

Dalam kasus tempe, pertanyaannya menjadi: “Apakah arti membuat tempe?”

Wow, kesannya kok berat sekali.

Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung latar belakang si pembuat. Bagi saya, membuat tempe adalah bentuk eksperimen dan belajar. Bagi istri saya, membuat tempe mungkin adalah sebagai jalan untuk berhemat. Semua benar.

Kritis

Terakhir adalah paradigma yang paling sedikit muncul dalam riset, yaitu paradigma kritis. Ini bukan berarti riset dengan menggunakan dua paradigma diatas tidak kritis, tetapi yang dimaksud dengan ‘kritis’ adalah riset yang secara kritis menyinggung permasalahan politik dan kekuasaan dalam ranah yang lebih luas. Riset dengan paradigma kritis melihat bahwa terdapat ketidakadilan pada keadaan sekarang, yang mungkin tersembunyi atau dianggap maklum oleh kebanyakan orang. Riset ini bertujuan untuk membuka ketidakadilan tersebut dan ingin melepaskan ‘penderitaan’ yang sebetulnya tidak perlu.

Contoh pertanyaan yang menggunakan paradigma ini adalah, “Apa yang salah pada sistem birokrasi Indonesia sehingga korupsi sangat membudaya?” atau “Kenapa sebagian orang merasa aneh ketika seorang ibu yang berpendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga?” atau bisa juga “Kenapa dalam sebuah institusi pendidikan tinggi, seorang tenaga pendidik dihargai bukan menurut kapasitas intelektualnya tetapi karena senioritas?”

Jawabannya mungkin tidak sulit, tetapi untuk mengutarakan pertanyaan tersebut butuh keberanian. Menjadi masuk akal sebetulnya, mengapa riset kritis ini paling sedikit tampak dipermukaan. Karena riset kritis berani untuk menantang apa yang sudah mapan. Dan terkadang, ada beberapa orang yang tidak suka jika ada yang berani menyentuh apa yang sudah nyaman dan aman. Katanya sih kalau jaman orde baru dulu, berani mempertanyakan kekuasaan bisa berakibat di dor.

Riset kritis tidak harus diawali dengan pertanyaan kritis, tetapi dampak dari riset tersebut bisa menjadi kritis. Galileo misalnya, penemuannya bahwa bumi itu mengitari matahari membuat dia harus berhadapan dengan penguasa saat itu yang berpegang pada paham bahwa bumi adalah pusat orbit semua planet. Penemuan Galileo menentang apa yang sudah mapan, Galileo pun kemudian ditangkap dan dipenjara.

Nah, kembali kepada dunia tempe, jika saya ingin melakukan riset dengan paradigma kritis, maka pertanyaan yang saya ajukan kurang lebih menjadi: “Siapakah yang diuntungkan (dan dirugikan) dari industri pembuatan tempe?” “Apakah terdapat monopoli dalam rantai pasokan industri tempe?” “Apakah tempe mencerminkan strata sosial konsumennya?”

Tentang hidup dan kehidupan

Melalui pemaparan tiga paradigma tersebut, ada satu hal yang saya sadari. Bahwa pada dasarnya ilmu di dunia tempat kita hidup sekarang ini dapat dibagi menjadi dua: ilmu tentang hidup dan ilmu tentang kehidupan. Hampir sama, tetapi cukup berbeda. Ilmu hidup adalah ilmu yang memudahkan kita untuk hidup. Ya hidup dalam arti hidup, tidak mati. Kita makan, minum, tidur, mencari nafkah, bertempat tinggal, semua ini adalah aktivitas yang mendukung kelangsungan hidup (survival) kita. Menilik kembali pada tiga paradigma di atas, kita bisa belajar banyak ilmu hidup melalui paradigma positivis. Bagaimana agar badan menjadi sehat, bisnis menjadi untung, dan tempat tinggal menjadi (ny)aman, hal tersebut adalah kontribusi dari riset positivis.

Ilmu hidup adalah ilmu yang memudahkan kita untuk hidup. Ya hidup dalam arti hidup, tidak mati.

Sedangkan ilmu kehidupan adalah ilmu yang memberikan makna dari kondisi hidup kita. Inilah yang membuat kita dapat menghidupi hidup, bukan justru mati dalam hidup. Dari tiga paradigma riset tadi, riset interpretivis dan kritis berkontribusi banyak dalam ilmu kehidupan. Melalui ilmu kehidupan, kita dapat memahami bahwa yang apa kita inginkan bukan hanya agar badan menjadi sehat, tetapi juga bermanfaat. Bukan hanya agar bisnis menjadi untung, tetapi juga barokah. Bukan hanya tempat tinggal yang aman dan nyaman, tetapi juga hangat, penuh cinta dan kasih sayang.

Sedangkan ilmu kehidupan adalah ilmu yang memberikan makna dari kondisi hidup kita.

Ketiganya penting, yang satu tidak lebih unggul dari yang lain. Dan yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga keseimbangan dari ketiga paradigma tersebut untuk hidup (di dunia sekarang) dan hidup setelah hidup (di dunia yang akan datang).