Tunduk kepada waktu atau menghormati waktu?

Tunduk kepada waktu artinya kita menyerahkan kendali hidup kepada waktu. Kita berada di bawah waktu. Waktu adalah tuan kita dan—akibatnya—hidup kita diperintah oleh waktu. Karena sekarang hari Senin, maka saya harus bekerja. Karena sekarang pukul lima sore, maka saya harus pulang. Karena besok ada deadline, maka sekarang saya lembur. Singkatnya, manusia menjadi seperti robot yang hidupnya didikte oleh waktu.

Tidak salah memang, dan manusia biasanya hidup seperti itu. Toh dalam Islam, shalat lima waktu juga ditentukan oleh waktu. Apa sih yang tidak diatur oleh waktu?

Permasalahannya adalah ketika kita menganggap waktu itu sebagai tu(h)an kita. Kalau dalam Islam, pada syahadat kita menyebut “Laa ilaaha illallah” yang artinya bahwa “tidak ada ilah selain Allah”. Kata ilah disini bisa dimaknai sebagai tuhan, atau bisa juga dimaknai sebagai apapun yg membuat kita menghamba dan rela mencurahkan hidup kita demi sesuatu tersebut. Ilah is an object of devotion. Kalau kata Erich Fromm dalam bukunya “To Have or To Be?” (1976, p. 111): we are what we are devoted to, and what we are devoted to is what motivates our conduct.

***

Pada sisi yang lain, menghormati waktu artinya kita berdiri sejajar dengan waktu. Hidup kita tidak didominasi waktu dan, sebaliknya, kita pun tidak berusaha mendominasi waktu. Betul, segala sesuatu yang kita lakukan berada dalam dimensi waktu, tetapi apa yang kita lakukan tidak ‘dipaksa’ oleh waktu. Waktu bukanlah objek penghambaan kita. Ilah seorang muslim tetaplah Allah, bukan yang lain. Jadi dia shalat bukan karena ini adalah waktunya shalat (rasional), tetapi karena dia adalah hamba Allah (spiritual) dan karena dia menghormati waktu-waktu shalat tersebut sebagai sarana penghambaannya.

Menghormati, alih-alih tunduk, artinya kita memuliakan tanpa merendahkan diri sendiri. Waktu menjadi partner kita—bukan tuan—dalam melakukan suatu pekerjaan. Memuliakan waktu artinya datang tepat waktu dan benar-benar hadir (tidak hanya badan, tetapi juga pikiran dan hati) dalam waktu tersebut. Kita dan waktu, yang semua adalah ciptaan, bekerja sama dalam tugas ibadah kepada Sang Pencipta.

Tulisan ini akan saya akhiri dengan mengutip sekali lagi dari Erich Fromm (1976) tentang kritiknya terhadap masyarakat modern sekarang dimana mesin (dan teknologi) telah menjadi penentu ritme kerja manusia:

Via the machine, time has become our ruler. Only in our free hours do we seem to have a certain choice. Yet we usually organize our leisure as we organize our work. Or we rebel against tyrant time by being absolutely lazy. By not doing anything except disobeying time’s demands, we have the illusion that we are free, when we are, in fact, only paroled from our time-prison. (p. 105)

Referensi

Fromm, E. (2008, originally published in 1976). To Have or To Be? New York: Continuum.