Memahami mekanisme Tuhan: Posisi Tuhan, setan, dan manusia

Sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, bahwa dunia tempat kita tinggal ini senantiasa berada dalam ‘peperangan’ antara yang baik dan yang buruk. Biasanya, yang baik berada dalam keadaan terbatas, minoritas, tertindas, dan tertipu sementara yang buruk berada dalam keadaan tak berbatas, mayoritas, menindas, dan menipu. Sebagai contoh, berulang kali dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa sebagian besar dari manusia itu “tidak beriman” (Al-Baqarah: 100), “tidak memahami” (Al-Maidah: 103; Al-An’am: 37), “tidak memperhatikan” (Al-An’am: 111), dan “tidak menepati janji” (Al-A’raaf: 102).

Terkait hal ini, kemudian muncul sebuah pertanyaan. Kenapa dalam kehidupan sosial manusia yang semestinya akan sama-sama enak jika manusia mengasah potensi baiknya, sebagian besar dari mereka harus ditakdirkan untuk melenceng dan membahayakan sebagian yang lain. Dengan kata lain, kenapa harus “sebagian besar” dari manusia yang masuk dalam klaim Tuhan untuk memiliki sifat yang “tidak baik”? Apakah Tuhan salah dalam hal ini?

Tuhan telah menjawab pertanyaan tersebut secara lugas: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya” (Yunus: 99). Dalam ayat lain dijelaskan bahwa “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berbeda pendapat” (Hud: 118). Setidaknya, ada dua faktor penting yang dapat kita ambil dari sini. Pertama, kehendak Tuhan adalah hak prerogatif-Nya yang tidak bisa didikte oleh manusia (Tuhan berkuasa penuh dalam kehendak-Nya untuk tidak berkehendak). Kedua, kondisi manusia yang selalu berbeda pendapat. Interaksi kedua fator tersebut membuat perwujudan “umat yang satu” menjadi mustahil. Kemudian dalam An-Nahl (93) dijelaskan pula, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat. Tetapi Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi pentunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Pertanyaan lain kemudian muncul, Tuhan kok menyesatkan? Bukannya yang menyesatkan itu seharusnya setan? Mari kita runut lagi ayat terakhir tersebut.

Tuhan punya wewenang untuk menjadikan manusia dalam satu umat. Namun wewenang tersebut, walaupun tersedia, tidak tergunakan (unexercised). Kemudian kesempurnaan kendali Tuhan atas segala ciptaan-Nya tersembunyi dalam keseolah-olahan kendali manusia atas kehidupannya. Karena semua adalah ciptaan-Nya (yang terlihat, yang tak terlihat, dan semua interaksi diantaranya), maka tidak ada satupun yang berada di luar lingkup Tuhan. Kalau tidak ada satu hal pun yang berada di luar lingkup Tuhan, maka semua merupakan wujud keberadaan Tuhan dan kendali-Nya. Semua merupakan bentuk mekanisme yang bekerja di bawah pengetahuan Tuhan. Sekarang, Tuhan menganugerahkan kepada manusia sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya yang lain, yaitu akal. Bersamaan dengan itu, melalui akal tersebut, Tuhan pun memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih antara yang baik dan buruk. Kebebasan untuk memilih inilah yang menjadikan manusia “senantiasa berbeda pendapat.”

Kehendak Tuhan akan lebih mudah lagi untuk dimengerti ketika kita melihatnya sebagai sebuah mekanisme. Mekanisme, artinya, terdapat sistem dengan berbagai komponen didalamnya yang dapat menjelaskan terjadinya atau tidak terjadinya sesuatu. Secara umum, marilah kita namai “kehendak Tuhan untuk memberi pentunjuk” sebagai “mekanisme kebaikan” sementara “kehendak Tuhan untuk menyesatkan” sebagai “mekanisme keburukan.” Sebagaimana dalam sebuah mekanisme terdapat komponen-komponen yang saling berinteraksi, maka mekanisme keburukan pun akan bekerja ketika manusia memilih untuk cenderung pada keburukan. Ini yang kemudian dibahasakan menjadi “Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya,” karena kehendak Tuhan merupakan bentuk kerja mekanisme yang Dia ciptakan.

Roy Bhaskar (2008) mengatakan bahwa dalam setiap mekanisme generatif (generative mechanism) terdapat (1) posisi, (2) aktor yang menempati posisi tersebut, dan (3) praktik yang dilakukan oleh aktor yang bersangkutan. Dalam mekanisme keburukan, setan bukanlah aktor utama; disitu ia hanya berposisi sebagai ‘pengarah gaya’. Lebih spesifik lagi, setan berperan untuk membawa manusia jauh dari Tuhan: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus” (Al-A’raaf: 16). Aktor utamanya adalah (dan selalu) manusia. Manusialah yang, pada akhirnya, memilih untuk menuruti dan menjalankan arahan setan atau tidak. Ketika manusia mempraktikkan ajakan setan, ketika itulah manusia efektif menjadi aktor dalam praktik keburukannya.

Setan tahu dan mengakui bahwa jalan yang lurus hanya ada pada sisi Tuhan. Ketika setan saja patuh kepada Tuhan, lalu apa sebetulnya alasan manusia untuk menuruti keinginan setan? Terlebih lagi, setan tidak akan bertanggungjawab atas apa yang manusia perbuat. Setan pun berkata:

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.
— (Ibrahim: 22)

“Janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri.” Pada akhir hari atau Hari Akhir kelak, setan tidaklah lebih berdaya daripada manusia di hadapan Tuhan. Bahkan, manusia semestinya lebih memiliki daya daripada setan karena manusia dapat menangkap pancaran cahaya Tuhan sementara setan tidak. Tidak ada kemenangan yang nyata dengan menuruti ajakan setan. Menuhankan adalah sifat dasar manusia, setan tahu persis hal itu. Akan tetapi ‘apa yang dipertuhankan’ adalah sebuah pertanyaan terbuka. Karena itulah, setan menyelinap ke hati manusia “dari depan, belakang, kanan, dan kiri” (Al-A’raaf: 17) untuk mendorong manusia agar menuhankan selain-Nya. Untuk itu kita harus selalu bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita melakukan perbuatan tertentu untuk memenuhi hawa nafsu/ego/‘tuhan’ kita, ataukah kita melakukan itu untuk membawa diri kita lebih dekat dengan Tuhan? 

Ketika kita mampu untuk menjawab pertanyaan tersebut, disitulah mekanisme kebaikan Tuhan bekerja dengan lebih nyata. Bukan bahwa mekanisme kebaikan hanya bekerja ketika manusia sadar, tetapi bahwa kesadaran manusia terhadapnya akan membuat mekanisme tersebut bekerja secara lebih kuat. Ini artinya memanfaatkan akal untuk berpikir, mata (hati) untuk melihat, dan telinga (hati) untuk mendengar dan memahami tanda-tanda-Nya dan mengenali posisi dirinya. Semakin seseorang memahami dirinya sendiri, semakin dia dekat dengan Tuhannya. Semakin seseorang dekat dengan Tuhannya, semakin dia sadar bahwa pilihan dalam hidup hanya bisa diarahkan untuk kembali kepada Tuhan. Kalimat “aku bersaksi bahwa tiada ‘tuhan’ selain ‘Tuhan’” adalah bentuk deklarasi formal yang harus kita maknai sebagai pembebas diri terhadap dominasi setan.

Menyadari cara kerja dua mekanisme ini semestinya memberikan kesadaran bagi manusia untuk membedakan antara kemenangan yang semu dan yang nyata. Kemenangan semu adalah kemenangan yang seolah-olah nyata, namun sejatinya tiada; kemenangan yang terus meminta; kemenangan yang, begitu ia didapat, segera ia kehilangan makna. Sementara kemenangan yang nyata ialah kemenangan melalui keberserahdirian; kemenangan yang memberi; kemenangan yang tak terlihat, karena ia hanya dapat dilihat oleh Tuhannya. Dalam kesadaran tersebut, pilihan seseorang yang berserah diri bukanlah pilihan dirinya sendiri, tetapi merupakan pilihan Tuhan yang harus ia jalankan untuk kembali kepada-Nya. Pada akhirnya, perkara ternyata kita termasuk yang mayoritas atau minoritas di bumi ini semestinya bukanlah menjadi soal utama. Tuhan mengingatkan kita untuk kritis dan tidak menyamakan antara “yang kebanyakan” atau “mayoritas” dengan “kebenaran.” Karena apalah arti menjadi mayoritas, kalau sejatinya hati tidak menjadi cenderung kepada-Nya? Dan setan pun tunduk di hadapan Tuhan.

Referensi

Bhaskar, R. (2008). A Realist Theory of Science. New York: Routledge.