Bisakah kita lebih suci dari suci?

Dalam Qur’an surat Asy-Syamsi, Allah bersumpah demi matahari dan cahaya paginya, demi bulan yang mengikutinya, demi siang yang mencerahkannya, demi malam yang menutupinya. Kemudian Allah melanjutkan sumpahnya demi langit dan pembinaannya, demi bumi dan pembentangannya, dan demi jiwa dan penyempurnaannya—yang dalam tafsir lain disebutkan juga “By the soul and He Who gave it symmetry” yang bisa diartikan bahwa setiap sisinya sama secara sempurna. Kemudian dilanjutkan dengan “fa alhamahaa fujuuroha wa taqwaaha”, bahwa Allah mengilhamkan/menginspirasikan jiwa itu dengan potensi penyelewengan dan potensi ketaatan. Maka beruntunglah dia yang mensucikannya, dan merugilah dia yang menahan/melumpuhkannya.

Nah, sampai disini mari kita berhenti sejenak dan melihat kembali, kira-kira maksudnya apa sih Allah bersumpah demi berbagai macam kejadian alam tersebut?

Kalau dilihat dari permukaan, semua terlihat berpasang-pasangan. Matahari-bulan, siang-malam, langit-bumi. Tetapi ada satu yang berdiri sendiri, yang tidak ada pasangannya: sumpah Allah demi jiwa. Apa sih pentingnya jiwa sehingga dia hanya berdiri sendiri? Allah hanya menyebutkan bahwa jiwa itu Dia sempurnakan, Dia beri simetri. Jiwa kok punya simetri? Memang jiwa punya sisi? Disini kemudian Allah baru menjelaskan sisi-sisi yang ada di dalam jiwa, yaitu potensi untuk taat dan melenceng.

Dilanjutkan lagi, beruntunglah seseorang yang mensucikan jiwanya, dan merugilah seseorang yang menahan/mengotori/melumpuhkan jiwa itu.

Cukup menarik untuk ditelaah bagaimana Allah merumuskan ayat-ayat tersebut. Kalau kita mendengar kata ‘mensucikan’, sebagai kata kerja, kita bisa artikan itu sebagai sebuah tindakan untuk membersihkan. Kalau sesuatu itu dibersihkan, artinya dalam sesuatu itu sebelumnya pasti ada kotor/ada kotoran. Kemudian kalau yang dimaksud untuk dibersihkan itu jiwa, berarti jiwa itu selalu berada dalam keadaan yang menjadi kotor. Artinya, Allah sangat memahami bahwa dalam hidup manusia itu mau tidak mau dia akan bersentuhan dengan yang namanya kotor. Bahkan walaupun manusia tidak melakukan apa-apa untuk mengotorinya (secara aktif), jiwa manusia sangat bisa menjadi kotor karena karakter inheren dalam jiwa yang diilhamkan oleh Allah berupa potensi untuk taat dan melenceng. Lha wong mobil yang sudah dicuci bersih kemudian ditinggal selama seminggu di garasi saja bisa kotor lagi. Maka dari itu, Allah mengingatkan kita untuk selalu mensucikan jiwa kita.

Jiwa kok disucikan? Itu cara nyucinya gimana? Kurang lebih ya sama seperti kalau kita mencuci menggunakan air. Kita bisa petik banyak pelajaran dari teknik mencuci dalam sehari-hari. Supaya bersih, pertama tentu airnya harus bersih, dan kedua, airnya harus mengalir agar kotorannya terbawa oleh aliran itu sehingga tidak bersinggungan lagi. Maksudnya? Begini. Badan itu sehat ketika makanan yang dimakan bersih dan bergizi tinggi. Sama seperti air bersih yang mengalir yang bisa mensucikan, makanan bersih yang bergizi tinggi akan menyehatkan. Oleh karena itu bentuk dan substansi itu sama-sama penting. Pangan dan gizi seperti apa yang baik untuk manusia? Itulah tugas manusia untuk mempelajari!

Hidup yang hidup adalah hidup yang menghidupi. Dalam kehidupan sosial, kita dituntun untuk melakukan zakat, menyantuni anak yatim, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, semua itu dalam rangka memberikan aliran yang mensucikan. Dalam mencari nafkah, kita dituntun untuk mencari sumber yang halal dan thoyyib agar barokah itu mengalir dan mensucikan diri kita dan keluarga kita. Dalam menuntut ilmu, kita dituntun untuk menyampaikan apa yang kita ketahui kepada orang lain walaupun sedikit karena mengajarkan itu mensucikan. Dalam mengajarkan, kita dituntut untuk paham dan kritis terhadap apa yang kita pelajari sehingga apa yang kita terima tidak menjadi sesuatu yang statis dan kaku. Dan pada gilirannya dalam memahami, kita dituntun untuk bertanya karena kemampuan untuk bertanya itulah yang menjadikan diri kita manusia, bukan binatang. Dengan bertanya, pikiran kita dibuat mengalir dalam mencari jawaban.

Kemudian satu lagi pertanyaan terakhir. Wis, misal kita ini sudah mumpuni dalam mensucikan diri kita dalam setiap hari-harinya, bisa nggak kita lebih suci lagi daripada suci? Dengan kata lain, suci itu sebetulnya titik nol manusia atau titik tertinggi? Ketika lebaran, ada yang bilang “sekarang kita kembali ke nol”, atau bahwa “setelah berpuasa di bulan Ramadhan, kita kembali suci.” Kalau suci itu diartikan sebagai sesuatu yang paling bersih, ucapan-ucapan seperti itu kok sepertinya tidak pas. Hidup manusia di dunia itu senantiasa dalam perjalanan menuju suci. ‘Mensucikan' adalah kendaraan yang dinaiki untuk mencapai kesana. Kalau orang sudah sampai tujuan, ya kendaraannya ditinggal. Kalau di dunia ini kita sudah suci, ya buat apa kita bersuci? Ya to? Kalau begitu, suci itu sebaiknya dimaknai sebagai sebuah keadaan (state) atau sebuah proses? Nah, ini silahkan untuk direnungkan masing-masing.

Wallahu a’lam.

***

[Get the print version here]