Semèlèh

Beruntunglah bangsa Indonesia karena kekayaannya akan nilai-nilai spiritual. Khususnya dalam kehidupan sehari-hari budaya Jawa, terdapat sebuah konsep yang disebut dengan semèlèh. Kata semèlèh dapat dirunut berasal dari kata sèlèh yang, dalam bahasa Jawa, merupakan kata kerja yang artinya ‘meletakkan’. Namun apabila pada sèlèh penekanannya terletak pada subjek yang melakukan, maka pada semèlèh penekanannya terletak pada keadaan benda/sesuatu yang diletakkan tersebut. Kemudian jika dalam hidup manusia itu dituntun untuk semèlèh, maka tentu yang dimaksud bukanlah keadaan fisik manusia yang ‘tergeletak’ atau ‘tersandar’, melainkan kondisi jiwanya yang ‘berserah diri’. Hidup orang yang semèlèh artinya hidupnya diliputi “perasaan tenteram di hati, mantap dalam ketenangan yang disumberi oleh kekuatan adiduniawi” (Sutrisno, 1985, hal. 88).

Sejauh yang saya ketahui, tidak ada konsep seperti ini dalam budaya Barat seperti di Eropa. Kalaupun bahasa Inggris adalah salah satu indikasi kehidupan sosial masyarakat Barat, maka kata yang memiliki padanan sebagaimana kata semèlèh (seperti to submit atau to surrender, misalnya) maka kata-kata tersebut juga masih kurang tepat dan bukanlah merupakan sesuatu yang lazim ditemui dalam sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat Barat secara umum. Berbeda dengan kehidupan masyarakat Jawa, istilah semèlèh merupakan bagian dari perbendaharaan kata sehari-hari yang tidak aneh bila dibicarakan secara terbuka. Semèlèh menjadi sebuah falsafah hidup dan penyebutannya menjadi sarana pengingat bagi penggunanya bahwa hidup akan lebih ringan apabila hati senantiasa berserah diri kepada Tuhan.

Perlu dipahami bahwa saya tidak bermaksud untuk melakukan stereotip dengan penggunaan istilah ‘Indonesia’, ‘Jawa’, atau ‘Barat’. Justru sebaliknya, yang ingin saya tekankan adalah bagaimana manusia memiliki kecenderungan dasar yang sama baik itu di Timur maupun di Barat: manusia ingin mendapatkan kebahagiaan batin. Mungkin sebagian dari kita ada yang mempersepsikan ‘Barat’ sebagai masyarakat yang—selain maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi—tidak memiliki nilai-nilai spiritual. Pada kenyataannya, dalam perjalanan penelitian saya tentang bisnis keluarga di sini (Luksemburg dan Jerman), nilai-nilai spiritual dalam keluarga itu tetap ada (meskipun tentu bukan Islam yang menjadi landasannya). Menariknya, disaat kebanyakan orang Indonesia terpana dengan kemewahan dan kekayaan bangsa Barat, sebagian dari orang Barat sendiri me­nyadari bahwa Eropa saat ini tengah berada dalam keadaan yang ‘miskin dan sakit’ secara spiritual: mereka merasa kurang walaupun gaji sudah sangat besar dan masih merasa miskin walaupun standar hidup sudah lebih dari layak. Tentu masalah ini sangatlah familiar. Penyakit ‘merasa kurang’ adalah influenza masyarakat kita juga. Berapapun jumlah penghasilan kita, rasa kurang itu juga menjangkiti sebagian kita. Justru orang Barat bertanya-tanya, kok bisa masyarakat kita ini berpenghasilan sebegitu kecil namun bisa tetap bahagia?

Bisa jadi, manusia itu terpenjara oleh keinginannya sendiri. Ketika kita berpikir bahwa dengan berpenghasilan sejumlah tertentu maka akan tercukupilah semua kebutuhan kita, maka itu jugalah cerita yang akan terus berulang berapa­pun uang yang dipunya. Dan anehnya, semakin kencang dunia kita cengkram, semakin besar pula kemung­kinannya untuk lepas dari genggaman. Dalam keadaan tersebut, hati menjadi sempit dan segala kepunyaan kita menjadi tidak relevan karena pada saat itu yang kita rasakan hanyalah betapa kurangnya kita. Dampaknya, kita menjadi lupa untuk bersyukur. Padahal barangsiapa bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya.

Itulah mengapa, kembali ke pembuka tulisan ini, beruntunglah mereka yang mengenal istilah semèlèh. Semèlèh bukan dalam arti secara fisik untuk berpangku tangan dan tidak melakukan apa-apa. Namun semèlèh dalam arti metafisik untuk menyandarkan hati kita pada titik yang paling rendah seperti hal­nya orang sujud dalam shalat. Pada titik tersebutlah hati ini akan merasa penuh, walaupun mungkin tak seberapa materi yang dimiliki. Pada titik tersebutlah segala pujian atau gunjingan orang tidak akan membuat goyah usaha dan niat baik seseorang untuk bekerja dan beribadah. Pada titik tersebutlah kita akan melewati hiruk pikuk ketidakpastian kehidupan dunia untuk menemui kepastian kehidupan akhirat.

***

REFERENSI
Sutrisno, S. (1985). Sorotan Budaya Jawa Dan Yang Lainnya. Yogyakarta: Andi.