Ingat dalam shalat

Tiba-tiba saja, seketika itu, pikiran Samidi seolah terbuka. Ingatannya bertambah tajam berkali-kali lipat. Daya pikirnya menjadi begitu jernih sebagaimana langit malam tanpa awan. Tentang kebuntuan hidup yang baru-baru ini menekannya, tak perlu lagi dia mencari-cari jawaban di tengah tebalnya kabut hitam. Pada saat itu, jelas nampak di depan matanya solusi apa yang harus ia segera lakukan. Samidi mendapatkan inspirasi.

Namun ia kembali ingat, saat ini ia sudah hampir ruku’. Diselesaikanlah segera bacaan surat pendeknya dan takbir pun diucap sambil mengge­rakkan badannya untuk ruku’.

Sejenak kemudian, pikiran Samidi kembali berontak: Tuhankah atau setan yang membukakan pikirannya beberapa saat yang lalu? Ia paham betul bahwa makna shalat itu adalah untuk mengingat Allah. Tapi kenapa yang muncul tadi justru jawab­an hidup atas persoalan dunianya? Apakah tadi jawaban Tuhan atas kekhusyu’annya? Ataukah tadi tipu daya setan yang membajak pikiran? “Khusyu’ kah shalat ku?”, itu pertanyaan yang terus bergema dalam benaknya. Apapun jawabannya, kejadian tadi telah sukses membuat Samidi gusar. Seusai shalat, ia tak kunjung beranjak. Ayat Qur’an surat Al Ma’ūn terngiang di kepalanya: “Maka celakalah mereka yang lalai dalam shalatnya”.

Jikalau itu Tuhan yang memberinya ‘inspirasi’, kok Tuhan humoris sekali. Kenapa dengan aku ingat aku justru menjadi lupa? Dan kalau betul itu dari Tuhan, kenapa inspirasi diberikan tidak segera setelah shalat? Seperti halnya transaksi jual-beli, selesai bayar barang didapat.

Yakinlah ia bahwa setan telah mengecohnya. Setan sangat suka ketika manusia mendua. Dan insiden ‘inspirasi’ tadi telah sukses membuat­nya mendua. Pada saat itu ia bukan lagi berdialog dengan Tuhan, namun dengan pikirannya sendiri. Samidi semakin yakin kalau itu adalah perbuatan setan ketika mendapati pikirannya kembali buthek seusai shalat. Benih-benih inspirasi yang tadi terlihat jelas seolah kembali bersembunyi dibalik tumpukan jerami. Samidi tidak ingat lagi ide apa yang tadi menjadi jawabannya. Ia merasa terkhianati oleh pikirannya sendiri. Atau mungkin lebih tepatnya, oleh setan yang membajak pikirannya.

Namun jika setan saja bisa membuat seolah-olah tirai jawaban permasalahan hidup tersibak walaupun hanya dalam jendela waktu sesingkat itu, maka bagaimana dengan kuasa Tuhan? “Mampukah Engkau membuka pikiranku menjadi begitu jernih?”, tanya Samidi setengah menantang. Agak kurang ajar memang pertanyaan Samidi ini dengan meragukan kemampuan Tuhan. Apalagi sampai membandingkan kekuatan-Nya dengan setan yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Ia sebetulnya sudah yakin betul akan ke-Maha Kuasa-an Tuhan. Tetapi pertanyaan tersebut memiliki maksud lain, yang tak kurang sembrono mendikte Tuhan: “Jika memang Engkau kuasa, tunjukkanlah buktinya padaku sekarang.”

Seperti manusia pada umumnya, Samidi pun cenderung percaya dengan apa yang ada di depan matanya sekarang ketimbang apa yang tak terlihat dan masih nanti-nanti. Mungkin kecenderungan itu pula yang membuat umat-umat terdahulu menuntut para nabi untuk menunjukkan mukjizatnya untuk memvalidasi kebenaran nabi dan kebesaran Tuhan. Kali ini, Samidi tidak menuntut itu pada nabi. Ia meminta itu untuk dirinya sendiri.

Dirunutlah kembali secara kronologis kapan tepatnya pikirannya terbajak oleh setan. Dan yang lebih penting, kenapa hal itu bisa terjadi. Ia menduga, bisa jadi dirinya kurang berpasrah dalam shalatnya. Kurang ikhlas. Kurang meletakkan permasalahan dunianya. Kurang semeleh. Tapi, apakah hanya itu?

Shalat, bagi Samidi, bukanlah sesuatu yang ­a­sing. Sebaliknya, setiap hari ia selalu bertegur sapa dengannya. Kadang ia juga mengingatkan orang lain untuk shalat. Dan karena seringnya itu­lah yang membuatnya tak banyak berpikir tentang­nya. Tidak banyak berpikir dalam arti sudah hafal betul prosedur gerakan dan bacaan shalat. Ibarat seseorang yang sudah terampil bersepeda, ia tidak berpikir lagi bagaimana menjaga keseimbangan dalam setiap kayuhan. Pikirannya terbebas dari hal-hal teknis tersebut karena semuanya sudah berjalan secara otomatis. Shalatnya pun, dalam derajat tertentu, berjalan secara otomatis.

Kalau boleh menyalahkan setan lagi, pintar betul mereka dalam membuat kecohan. Dibuatnya seolah-olah jawaban padahal jebakan. Dibuatnya seolah-olah harapan padahal tipuan. Merasa kalah dengan setan, Samidi sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi shalat selanjutnya. Karena bisa jadi, yang sama bahayanya dengan kelalaiannya dalam shalat adalah keliaran ingatannya sendiri. •