Keasingan yang menggoda

Hilang sudah daya tarik barang idaman Samidi yang baru saja dibelinya satu bulan yang lalu. Daya tariknya sirna seolah Samidi tak pernah terpikat sedikit pun kepadanya. Kali ini, ada barang lain yang sedang menghinggapi pikiran Samidi. Kegandrung­annya tertuju pada hal lain yang belum ia miliki tersebut. Sesuatu yang belum ia ketahui bagaimana rasa memilikinya. Untuk kesekian kalinya, Samidi kembali tergoda.

Akan lebih nyaman sebetulnya apabila Samidi cu­kup berkutat dengan sesuatu yang sudah ia pu­nyai. Sepeda motornya, dua gitarnya, laptopnya. Kepemilikan Samidi atas barang-barang tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa baginya. Malahan, sangat biasa. Bisa jadi karena itu juga, Samidi justru sering terhanyut oleh ketertarikannya pada sesuatu yang tidak biasa baginya. Yang masih asing. Bukan apa-apa, sesuatu yang asing dan belum diketahui memang memiliki daya tarik tersendiri. Keasingan dan ketidaktahuan telah membuat Adam memakan buah yang dilarang Tuhan. Keasingan dan ketidaktahuan pula yang telah membawa manusia terbang ke bulan. Juga, berkobarnya gairah asmara antara dua manusia bukanlah karena apa yang diketahui atas pasangannya, namun karena adanya sesuatu yang masih asing dan tidak diketahui dari pasangannya. Manusia mestinya berterimakasih kepada selimut kea­sing­an karena melaluinya eksplorasi dan eksperimentasi menjadi sebuah perjalanan yang mendebarkan.

Namun untuk Samidi, kalau sampai ia tergoda lagi, ini akan menjadi yang ke­sekiankalinya ia loncat dari satu keasingan menuju keasingan yang lain. Keasingan membuatnya penasar­an, ingin tahu. Dan sebagai orang yang lebih banyak berpikir daripada bekerja, Samidi tak bisa dengan mudah mengenyahkan rasa penasaran tersebut. Samidi berpikir bahwa untuk melegakan dahaga keingintahuan tersebut, barang yang saat ini menjadi fokus perhatiannya tersebut harus dimiliki, dikonsumsi, dimakan, dan dibeli. Ia pikir, dengan menguasai apa yang menarik keingintahuannya, akan kenyang pula rasa penasaran di dalam dirinya. Bagi Samidi, lebih baik panggilan tersebut ia turuti sehingga diam dari­pada ia pendam dengan efek samping bahwa rasa penasaran tersebut akan terus menggaungi pikirannya.

Betul, kali ini Samidi pun memutuskan untuk loncat. Ditebaslah leher rasa penasaran di dalam dirinya dengan mengikuti panggilannya. Sejenak kemudian, pikiran Samidi menjadi senyap. Bising­nya gaung yang mendorong Samidi untuk loncat pun lenyap. Ia sangka, monster di dalam dirinya sudah tewas.

Anehnya, walaupun senang, Samidi tak merasa menang. Alih-alih mendapatkan ketenangan batin, Samidi justru merasa canggung. Ia tidak pede dengan apa yang saat ini ia sudah punyai. Sekarang ia sudah tidak penasaran lagi. Tetapi rasa puas yang ia tunggu-tunggu tak juga kunjung datang. Samidi justru merasa hampa. Setelah yang ia inginkan ia miliki, kemudian apa?

Barangkali, memang harus dipisahkan antara keasingan dan ketertarikan manusia terhadap se­suatu tersebut. Asingnya sesuatu tidak akan menjadi masalah bagi manusia ketika tidak disadari dan yang bersangkut­an tidak memiliki ketertarikan padanya. Namun ketika keduanya hadir, seperti pada kisah Nabi Adam dimana (1) ia sadar akan keberadaan pohon yang oleh Allah dilarang untuk didekati dan (2) pohon tersebut dibuat menarik hatinya, ‘keasingan’ kemudian menjadi celah yang membuat manusia bertindak di luar akal sehat. Dengan dalih untuk ‘mengetahui’, keasingan pun dikuasai dan dilucuti. Lebih aneh lagi, ketika kehampaan yang diterima, keasingan kemudian disuruh untuk bertanggungjawab atas ke-tidak masuk akal-an perilaku manusia. Inilah kiranya yang sedang Samidi alami. Kalau saja ia tidak menyadari keberadaan sesuatu tersebut, mungkin ketertarikan padanya tidak akan muncul dan keasingan yang ada padanya tak akan memaksa Samidi untuk berbuat sejauh ini.

Namun begitu, keasingan juga memiliki kekuatan untuk melipatgandakan. Ketika ia bertemu dengan prasangka dan kerapuhan, keasingan berubah menjadi kebencian dan permusuhan. Ketika ia bertemu dengan kesabaran dan ketulusan, keasingan berubah menjadi cinta dan kasih sayang.

“Ah, andai saja semudah itu!” batin Samidi. Kare­na seringkali, keasingan itu datang dengan rupa ber­makna ganda yang tak mudah dicerna. Setidak­nya, Samidi tahu bahwa keputusannya tidak tepat. Yang ia tidak tahu adalah bagaimana ia harus menyembu­nyikan ketidakberdayaannya. Kegalauan Samidi memaksanya untuk merenung­i doa Nabi Adam yang memohon ampun kepada Tuhan­nya, “Ya Tuhan kami, kami telah meng­a­niaya diri kami sendiri, jika Engkau tidak ampuni kesalah­an kami dan Engkau kasihi kami dengan karunia-Mu, niscaya kami akan termasuk golongan yang merugi.”

***