Perjalanan seorang intelektual

“Aku sudah baca draft-mu Sam,” kata Bagus, merujuk kepada tulisan yang Samidi kirim kepadanya dua minggu yang lalu. Waktu itu, Samidi minta tolong agar tulisannya dibaca dan dikomentari. Bagus adalah sahabat karib Samidi. Dia juga salah satu dari sedikit lawan debatnya yang tega membombardir Samidi dengan kritik tajam.

Karena antara Bagus dan Samidi terpisah jarak antar benua, pembicaraan mereka kali ini tersambung melalui salah satu teknologi komunikasi yang populer dengan nama Skype.

Sambil membenarkan posisi laptopnya, Bagus menyergah, “Kalau ujung-ujungnya kamu itu merujuk kepada Qur’an, buat apalah kamu susah-susah sekolah setinggi itu? Toh semua sudah jelas ada di dalam Qur’an. Dan semua yang ada disana sudah pasti benar. Tinggal dibaca, cetha wela wela. Tidak seperti risetmu yang—tidak cuma panjang dan njelimet—tapi juga belum tentu benar.”

Dalam draft-nya, Samidi menuliskan hasil riset yang ia lakukan selama ini yang disertai sebuah appendix yang berisi refleksi mengenai keterkaitan antara proses risetnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Refleksi itu pun ia tambahkan karena tahu bahwa Bagus lah yang akan menjadi pembacanya.

“Betul, den Gus,” jawab Samidi setengah sabar. “Kalau yang menjadi tujuan keberagamaan itu hanya membaca apa yang tertulis, sejak SD pun sudah aku baca yang tertulis itu. Tapi yang aku inginkan adalah memaknai dalamnya apa yang tertulis itu Gus. Kesederhanaan itu adalah puncak segala ilmu. Dan Al-Qur’an itu sungguh adalah bukti bahwa pengetahuan Tuhan adalah pengetahuan yang tertinggi. Susah lho, Gus menuliskan kebenaran dengan sederhana dengan kedalaman yang tak terhingga.”

“Wah, kalau kamu bilang begitu, artinya kamu sedang mendaki jalan yang sulit. Maksudmu, kamu mau nggathukke antara sains dengan agama? Antara aktivitas yang membuat klaim atas dasar empiris dengan entitas yang tak terjangkau wujudnya secara panca indra?”

Lha, kamu kan tadi tanya, kenapa ujung-ujungnya kesimpulan tulisanku mengarah kepada Qur’an? Nah, jawabanku tadi adalah caraku memaknai pekerjaanku saat ini. Dari sudut pandang bidang yang aku tekuni sekarang. Gusti Allah sudah menaruhku di sini, membukakan dan membimbing jalanku. Bagaimana caraku berterima kasih? Yang aku yakini saat ini, adalah dengan selalu bertanya kemana ilmu yang aku dapatkan ini membawaku? Apakah semakin dekat, atau semakin jauh dengan Dia.”

Bagus masih mencoba mengikuti alur pikir Samidi ketika Samidi menyambung, “Begini, Gus. Tanggung jawab seorang intelektual adalah menjembatani dari sebuah pengetahuan yang berupa common sense menuju kepada sebuah bentuk pengetahuan yang diturunkan Tuhan melalui Al-Qur’an. Walaupun sebetulnya, kalau dilihat secara sepintas, antara common sense dan ‘wahyu Tuhan’ itu hampir sama.”

Hus! Ngawur aja kamu ini. Masak, common sense kamu samakan dengan firman Tuhan? Samanya dimana?”

“Mereka sama-sama sederhana. Ya tho Gus? Walaupun tentu kesederhanaan itu ada dua macamnya: kesederhanaan yang ‘ngono thok’ dan kesederhanaan yang menyimpan sejuta keelokan. Untuk saat ini, cukuplah kita taruh mereka dalam satu label ‘sederhana’.”

“Akan tetapi,” lanjut Samidi. “Meskipun keduanya sederhana, yang membedakan antara keduanya adalah kedalaman argumennya. Misal kalau common sense hanya bilang ‘langit itu biru’, dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa pada penciptaan langit dan bumi itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya.”

Bagus mulai mengangguk pelan dan kemudian menanggapi, “Oke, oke. Kalau begitu yang kamu lakukan sekarang ini adalah mengidentifikasi peran seorang intelektual dalam horizon ilmu pengetahuan.”

Wedyan, canggih tenan kamu, Gus!” kata Samidi sambil sedikit sumringah. “Isa dadi judhul tesis kuwi!”

Tanpa menghiraukan komentar Samidi, Bagus segera mengambil bolpen dan kertas dari mejanya. Dengan bolpennya ia tarik dua sumbu horizontal dan vertikal yang membentuk sudut 90 derajat. Kemudian ia lanjutkan dengan membuat kurva lonceng yang cembung di bagian tengahnya. Kurva tersebut pun ia bagi menjadi beberapa bagian yang setiap bagiannya ia tandai. Setelah beberapa saat, Bagus mengarahkan kertas tersebut ke kamera laptopnya.

Sing awakmu jelaske mau, nek tak rangkum dadine ngene,” kata Bagus sambil menunjuk ke diagram yang baru saja ia gambar. Samidi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Sambil membaca setiap tanda pada diagram tersebut, ia mengangguk-angguk tak bersuara.

Exactly, Gus! Itu yang tak maksud!” sahut Samidi bak Archimedes yang berteriak eureka. “Yang menjadi tugas seorang intelektual adalah memberikan penjelasan atas ilmu pengetahuan pada derajat kompleksitas menengah hingga derajat kompleksitas yang tinggi. Porsi itulah yang semestinya dipikul oleh seorang intelektual. Namun pada titik tertentu—seiring dengan bertambahnya kedalaman pada argumen—seorang intelektual yang baik akan mampu menurunkan tingkat kompleksitas penjelasannya. Seperti halnya Einstein. Di balik rumus sederhana Einstein terdapat begitu banyak pembuktian matematika yang sangat kompleks. Namun kerumitan tersebut mampu ia lampaui dan ia sajikan secara sederhana. Itu pula lah arah yang semestinya seorang intelektual tuju. Pelajarilah dunia ini dengan segala interaksinya. Tenggelamlah pada kerumitan teori, data, temuan, dan penjelasan. Baca apa yang sudah ditulis oleh pendahulu-pendahulu ilmu. Pahami sudut pandang mereka, kenali keterbatasannya. Jikalau kamu nantinya sampai pada titik jawaban, pada saat itulah kamu menemukan titik kesederhanaan. Pada akhirnya, titik kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan intelektual ‘kembali’ kepada Qur’an. Kembali kepada Tuhan.”

 Sumber: Gambar diagram Bagus yang disusun ulang oleh Samidi.

Sumber: Gambar diagram Bagus yang disusun ulang oleh Samidi.