Berkehendak untuk tidak

Perlu dipahami bahwa kekuatan itu, besarannya, bukanlah diukur dari besar kecilnya realisasi namun melalui bagaimana potensi dan kehendak itu berpadu.

Termasuk di dalamnya adalah kehendak untuk tidak merealisasikan potensi.

Namun kebanyakan manusia mudah terkecoh dengan mengatributi kekuatan hanya kepada sesuatu yang nampak, terlihat, dan terasa. Yang tidak nampak, yang tidak terlihat, dan tidak terasa dianggapnya tidak ada, tidak memiliki kekuatan. Padahal bisa jadi untuk membuat sesuatu itu menjadi tidak nampak dan tidak terasa membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar.

Potensi dan kehendak adalah dua hal yang mirip, namun keduanya perlu dibedakan. Kehendak bergantung pada potensi. Ketika potensi itu ada, maka realisasinya bergantung pada kehendak. Dalam keadaan ada kehendak namun tidak ada potensi, maka yang harus dipenuhi terlebih dahulu adalah potensi. If there is a will, there is a way tidak berbicara mengenai kekuatan, ia hanya menyinggung perihal jalan menuju potensi.

Betul, bahwa manusia memiliki semua potensi. Dan sudah semestinya manusia itu berkehendak untuk mengembangkan potensinya. Dalam kondisi ini, kita mendapatkan skema sederhana berikut: potensi –> kehendak –> potensi –> kehendak. Kita bisa meneruskan skema linear ini ad infinitum dan kita akan menjumpai hal yang wajar. Namun yang menarik adalah ketika kita mendapati skema berikut: potensi –> kehendak –> potensi –> kehendak untuk tidak. Di sini, tibalah manusia pada titik belok. Sebuah titik dimana terdapat jarak antara kehendak dan perbuatan. Titik dimana ia sedang bertransisi dari kekuatan kecil menuju kekuatan yang lebih besar.

Berkehendak untuk tidak bukan berarti tidak berkehendak. Saya berkehendak untuk tidak makan tidaklah sama dengan saya tidak berkehendak untuk makan. Yang pertama adalah niat untuk tidak, yang kedua adalah tidak ada niat.

Manusia yang berkehendak untuk tidak artinya ia berniat untuk mengendalikan dirinya. Niat itu selalu bersih. Kehendak belum tentu. Niat ‘jahat’ itu sejatinya adalah potensi yang dibakar oleh kehendak. Dengan berkehendak untuk tidak, tidak hanya kita bisa mengurangi kadar jahat yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri, namun boleh jadi kita juga memberikan kebaikan kepada orang lain.