Kemungkinan dan kepastian

Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan. Hidup dan mati, terang dan gelap, siang dan malam, dan lain sebagainya termasuk diantaranya hal-hal yang bersifat ‘mungkin’ dan hal-hal bersifat ‘pasti’. Dalam tulisan kali ini, saya akan mengajak pembaca untuk merenungi makna dari dua sifat ini: antara kemungkinan dan kepastian.

Secara logika, yang ‘mungkin’ itu cenderung tak kasat mata, tak teraba, dan samar-samar. Sementara yang ‘pasti’ itu cenderung kasat mata, tampak bentuknya, dan jelas. Walaupun begitu, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terbalik melihat yang ‘mungkin’ sebagai hal yang pasti dan yang ‘pasti’ sebagai hal yang mungkin. Contoh, hidup itu sifatnya mungkin sementara mati itu sifatnya pasti. Ketika ditanya apakah kita akan hidup esok hari, jawabannya adalah ‘mungkin’, tetapi ketika ditanya apakah kita akan mati, jawabannya adalah ‘pasti’. Namun begitu, banyak manusia yang menjadikan hidup sebagai kepastian sementara mati sebagai kemungkinan. Akibatnya, ambisi manusia pada yang hidup dapat membuatnya lupa pada yang mati. Contoh lain, status pekerjaan itu sifatnya mungkin sementara status sebagai anak, ayah, ibu, suami, atau istri itu sifatnya pasti. Status pekerjaan bisa datang dan pergi, tetapi status sebagai anak atau orang tua, misalnya, akan melekat sepanjang masa. Jika tidak hati-hati, ambisi manusia untuk mengejar status sosial and ekonomi bisa membuatnya lupa untuk menjalankan tanggung jawab moral dan spiritual terhadap keluarganya.

Manusia itu hidup dalam alam kemungkinan dan hanya bisa menawarkan kemungkinan. Anehnya, ketampakan manusia sebagai makhluk yang mungkin membuatnya seolah-olah mampu menawarkan sesuatu yang pasti. Pada sisi yang lain, Allah itu Yang Maha Pasti dan merupakan sumber segala kepastian. Anehnya, ketidaktampakan-Nya oleh manusia sebagai Dzat Yang Maha Pasti membuat sebagian manusia mengira bahwa kepastian-Nya hanya berupa kemungkinan belaka. Wallahua’lam bishowab.