Memahami paradigma riset melalui “tempe”: Ilmu tentang hidup dan kehidupan

Belum lama ini, istri saya punya ide untuk membuat tempe sendiri. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di luar negri, ngidam tempe kadang muncul tanpa kenal waktu dan tidak bisa langsung dapat. Apalagi setelah tahu kalau di Luksemburg tidak ada toko Asia yang jual tempe, rasanya tambah kangen saja (terkadang keterbatasan akses terhadap sesuatu itu membuat keinginan semakin bertambah). Pun kalau harus beli tempe, paling dekat harus ke kota negara tetangga di Trier, Jerman. Sebetulnya tidak jauh-jauh amat sih, cuma kami terlalu malas untuk pergi kesana. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami putuskan untuk bereksperimen. Singkat cerita, setelah semua peralatan lengkap, kedelai siap, dan tempeh starter (ragi) yang kami pesan dari Belgia datang, kami pun maju jalan.

Read More