Learning is journeying

Learning is journeying. And like traveling, journeying means that we depart from our familiar dwelling to a place that is new and strange to us. But unlike traveling, journeying is a difficult and long process with no clear view of where it will end. Therefore, a journeyman (and woman) is forever a guest to what he visits. Each step taken is a step of respect. And strangeness is not to be judged and beaten up by his pre-conceptions but to be given space to shape his world-view in apprehending it.

It is true that to get things done you need to stick to what you know. But to enrich what you do and how you think, you have to admit what you don’t know. This is what learning is about. To learn requires you to be thrown off-balance. To be uncomfortable. To be exposed. To take the courage and say to yourself, “I don’t know” and then starts to appreciate others.

Perjalanan seorang intelektual

“Aku sudah baca draft-mu Sam,” kata Bagus, merujuk kepada tulisan yang Samidi kirim kepadanya dua minggu yang lalu. Waktu itu, Samidi minta tolong agar tulisannya dibaca dan dikomentari. Bagus adalah sahabat karib Samidi. Dia juga salah satu dari sedikit lawan debatnya yang tega membombardir Samidi dengan kritik tajam.

Karena antara Bagus dan Samidi terpisah jarak antar benua, pembicaraan mereka kali ini tersambung melalui salah satu teknologi komunikasi yang populer dengan nama Skype.

Sambil membenarkan posisi laptopnya, Bagus menyergah, “Kalau ujung-ujungnya kamu itu merujuk kepada Qur’an, buat apalah kamu susah-susah sekolah setinggi itu? Toh semua sudah jelas ada di dalam Qur’an. Dan semua yang ada disana sudah pasti benar. Tinggal dibaca, cetha wela wela. Tidak seperti risetmu yang—tidak cuma panjang dan njelimet—tapi juga belum tentu benar.”

Dalam draft-nya, Samidi menuliskan hasil riset yang ia lakukan selama ini yang disertai sebuah appendix yang berisi refleksi mengenai keterkaitan antara proses risetnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Refleksi itu pun ia tambahkan karena tahu bahwa Bagus lah yang akan menjadi pembacanya.

“Betul, den Gus,” jawab Samidi setengah sabar. “Kalau yang menjadi tujuan keberagamaan itu hanya membaca apa yang tertulis, sejak SD pun sudah aku baca yang tertulis itu. Tapi yang aku inginkan adalah memaknai dalamnya apa yang tertulis itu Gus. Kesederhanaan itu adalah puncak segala ilmu. Dan Al-Qur’an itu sungguh adalah bukti bahwa pengetahuan Tuhan adalah pengetahuan yang tertinggi. Susah lho, Gus menuliskan kebenaran dengan sederhana dengan kedalaman yang tak terhingga.”

“Wah, kalau kamu bilang begitu, artinya kamu sedang mendaki jalan yang sulit. Maksudmu, kamu mau nggathukke antara sains dengan agama? Antara aktivitas yang membuat klaim atas dasar empiris dengan entitas yang tak terjangkau wujudnya secara panca indra?”

Lha, kamu kan tadi tanya, kenapa ujung-ujungnya kesimpulan tulisanku mengarah kepada Qur’an? Nah, jawabanku tadi adalah caraku memaknai pekerjaanku saat ini. Dari sudut pandang bidang yang aku tekuni sekarang. Gusti Allah sudah menaruhku di sini, membukakan dan membimbing jalanku. Bagaimana caraku berterima kasih? Yang aku yakini saat ini, adalah dengan selalu bertanya kemana ilmu yang aku dapatkan ini membawaku? Apakah semakin dekat, atau semakin jauh dengan Dia.”

Bagus masih mencoba mengikuti alur pikir Samidi ketika Samidi menyambung, “Begini, Gus. Tanggung jawab seorang intelektual adalah menjembatani dari sebuah pengetahuan yang berupa common sense menuju kepada sebuah bentuk pengetahuan yang diturunkan Tuhan melalui Al-Qur’an. Walaupun sebetulnya, kalau dilihat secara sepintas, antara common sense dan ‘wahyu Tuhan’ itu hampir sama.”

Hus! Ngawur aja kamu ini. Masak, common sense kamu samakan dengan firman Tuhan? Samanya dimana?”

“Mereka sama-sama sederhana. Ya tho Gus? Walaupun tentu kesederhanaan itu ada dua macamnya: kesederhanaan yang ‘ngono thok’ dan kesederhanaan yang menyimpan sejuta keelokan. Untuk saat ini, cukuplah kita taruh mereka dalam satu label ‘sederhana’.”

“Akan tetapi,” lanjut Samidi. “Meskipun keduanya sederhana, yang membedakan antara keduanya adalah kedalaman argumennya. Misal kalau common sense hanya bilang ‘langit itu biru’, dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa pada penciptaan langit dan bumi itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya.”

Bagus mulai mengangguk pelan dan kemudian menanggapi, “Oke, oke. Kalau begitu yang kamu lakukan sekarang ini adalah mengidentifikasi peran seorang intelektual dalam horizon ilmu pengetahuan.”

Wedyan, canggih tenan kamu, Gus!” kata Samidi sambil sedikit sumringah. “Isa dadi judhul tesis kuwi!”

Tanpa menghiraukan komentar Samidi, Bagus segera mengambil bolpen dan kertas dari mejanya. Dengan bolpennya ia tarik dua sumbu horizontal dan vertikal yang membentuk sudut 90 derajat. Kemudian ia lanjutkan dengan membuat kurva lonceng yang cembung di bagian tengahnya. Kurva tersebut pun ia bagi menjadi beberapa bagian yang setiap bagiannya ia tandai. Setelah beberapa saat, Bagus mengarahkan kertas tersebut ke kamera laptopnya.

Sing awakmu jelaske mau, nek tak rangkum dadine ngene,” kata Bagus sambil menunjuk ke diagram yang baru saja ia gambar. Samidi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Sambil membaca setiap tanda pada diagram tersebut, ia mengangguk-angguk tak bersuara.

Exactly, Gus! Itu yang tak maksud!” sahut Samidi bak Archimedes yang berteriak eureka. “Yang menjadi tugas seorang intelektual adalah memberikan penjelasan atas ilmu pengetahuan pada derajat kompleksitas menengah hingga derajat kompleksitas yang tinggi. Porsi itulah yang semestinya dipikul oleh seorang intelektual. Namun pada titik tertentu—seiring dengan bertambahnya kedalaman pada argumen—seorang intelektual yang baik akan mampu menurunkan tingkat kompleksitas penjelasannya. Seperti halnya Einstein. Di balik rumus sederhana Einstein terdapat begitu banyak pembuktian matematika yang sangat kompleks. Namun kerumitan tersebut mampu ia lampaui dan ia sajikan secara sederhana. Itu pula lah arah yang semestinya seorang intelektual tuju. Pelajarilah dunia ini dengan segala interaksinya. Tenggelamlah pada kerumitan teori, data, temuan, dan penjelasan. Baca apa yang sudah ditulis oleh pendahulu-pendahulu ilmu. Pahami sudut pandang mereka, kenali keterbatasannya. Jikalau kamu nantinya sampai pada titik jawaban, pada saat itulah kamu menemukan titik kesederhanaan. Pada akhirnya, titik kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan intelektual ‘kembali’ kepada Qur’an. Kembali kepada Tuhan.”

Sumber: Gambar diagram Bagus yang disusun ulang oleh Samidi.

Sumber: Gambar diagram Bagus yang disusun ulang oleh Samidi.

On knowledge, its creation, and its possession

We don’t create knowledge
for they have been created
long before our soul was breathed

.

But some people proclaim knowledge as what they make
insisting that there is no knowledge without humans’ effort to partake

.

Yet, we still don’t know what we know

.

When we claim we know,
we are granted a vision to see its appearance
and when we say we don’t know,
there is a veil that blocks its glowing brilliance

.

To lift the veil we must make an appeal
to the maker of that very veil
and this means admitting our not knowing
and surrendering to the All-Knowing

.

Knowledge flow from those who know
to those who stay low
if it’s humility that we sow
perhaps our Lord will make our knowledge grow

..

Luxembourg and our mis-understanding of others

Honking horns, beating drums, and revving engines are breaking the night. Shortly after Portugal wins the Euro semi-final, Luxembourg becomes not what a normal night would be.

I can only observe from the distance. From where I live—in the infamous Rue de Strasbourg—people on the street are in euphoria. Some people dance in the middle of the street, blocking other cars from passing through and cheering the passerby to let them know how happy they are. Cars and motorcycles are equipped with Portuguese flags and they make convoys in the city. At this night, Luxembourg is in a different state.

If statistics is of any indication, Luxembourg’s 570.000 inhabitants are populated by 47% foreigners. Of which, 93% is Portuguese (Statec, 2016). Portuguese are part of the deep substrates in Luxembourg’s society. So, imagine when there is an event with a magnitude of the Euro Cup and Portugal proceeds to the final, Luxembourg will certainly not be quiet and cool. If you live there, you are not only hearing the celebration in a handful of bars, but you hear them on the entire city. All night.

The blast of the horns are still filling the air when I write. Perhaps, some people are puzzled by seeing the celebration of the match they did not win. And as a father with two little kids, I cannot neglect the noise either. I feel alienated.

And there you have it. When you are faced with something that is foreign to you—in particular a behavior of a group—it is tempting to attribute any explanation of it based on the other party’s origin. It’s an easy route. You make sense of it by what you immediately see. Be it the country of origin, religion, or race. It happens elsewhere too. My wife has experienced, for several times, verbal and non-verbal harassment on the street and public places. One of them just happened yesterday. Possibly by the fact that she is wearing a hijab/veil. And possibly also due to the strong prejudice that is attributed to Islam in the recent years. Or perhaps due to other reasons? We don’t know. But she was certainly misunderstood. We’ve had it. And as foreigners, prejudice becomes part of our lives.

No one likes confusion. Confusion threatens one’s sovereignty. Yet everyone likes the feeling of being sovereign. That is why people celebrate it: to express one’s sovereignty. When it is threatened, people will restore it either by trying to understand others or by attacking others. The strong proponents of those who are harsh towards foreigners in the name of “making America great again,” for example, are partly fueled by the false promise of restoring one’s sovereignty. We now live in the era where sovereignty should be achieved through mutual understanding and respect to others. Both ways.

It is difficult to understand others. And it is scary too—one might end up being more confused than ever before. Not all people can do this. Yet, this is what is precisely needed in our society where our interconnections to others are inevitable. At other part of the world, one might easily dismiss the presence of foreigners in a country, but maybe because their number is small in comparison to the whole population. But in a society where almost half of the population are of a foreign origin, one might have to think differently on how to embrace them.

Reference

Statec. 2016. Population by nationalities.

Keasingan yang menggoda

Hilang sudah daya tarik barang idaman Samidi yang baru saja dibelinya satu bulan yang lalu. Daya tariknya sirna seolah Samidi tak pernah terpikat sedikit pun kepadanya. Kali ini, ada barang lain yang sedang menghinggapi pikiran Samidi. Kegandrung­annya tertuju pada hal lain yang belum ia miliki tersebut. Sesuatu yang belum ia ketahui bagaimana rasa memilikinya. Untuk kesekian kalinya, Samidi kembali tergoda.

Akan lebih nyaman sebetulnya apabila Samidi cu­kup berkutat dengan sesuatu yang sudah ia pu­nyai. Sepeda motornya, dua gitarnya, laptopnya. Kepemilikan Samidi atas barang-barang tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa baginya. Malahan, sangat biasa. Bisa jadi karena itu juga, Samidi justru sering terhanyut oleh ketertarikannya pada sesuatu yang tidak biasa baginya. Yang masih asing. Bukan apa-apa, sesuatu yang asing dan belum diketahui memang memiliki daya tarik tersendiri. Keasingan dan ketidaktahuan telah membuat Adam memakan buah yang dilarang Tuhan. Keasingan dan ketidaktahuan pula yang telah membawa manusia terbang ke bulan. Juga, berkobarnya gairah asmara antara dua manusia bukanlah karena apa yang diketahui atas pasangannya, namun karena adanya sesuatu yang masih asing dan tidak diketahui dari pasangannya. Manusia mestinya berterimakasih kepada selimut kea­sing­an karena melaluinya eksplorasi dan eksperimentasi menjadi sebuah perjalanan yang mendebarkan.

Namun untuk Samidi, kalau sampai ia tergoda lagi, ini akan menjadi yang ke­sekiankalinya ia loncat dari satu keasingan menuju keasingan yang lain. Keasingan membuatnya penasar­an, ingin tahu. Dan sebagai orang yang lebih banyak berpikir daripada bekerja, Samidi tak bisa dengan mudah mengenyahkan rasa penasaran tersebut. Samidi berpikir bahwa untuk melegakan dahaga keingintahuan tersebut, barang yang saat ini menjadi fokus perhatiannya tersebut harus dimiliki, dikonsumsi, dimakan, dan dibeli. Ia pikir, dengan menguasai apa yang menarik keingintahuannya, akan kenyang pula rasa penasaran di dalam dirinya. Bagi Samidi, lebih baik panggilan tersebut ia turuti sehingga diam dari­pada ia pendam dengan efek samping bahwa rasa penasaran tersebut akan terus menggaungi pikirannya.

Betul, kali ini Samidi pun memutuskan untuk loncat. Ditebaslah leher rasa penasaran di dalam dirinya dengan mengikuti panggilannya. Sejenak kemudian, pikiran Samidi menjadi senyap. Bising­nya gaung yang mendorong Samidi untuk loncat pun lenyap. Ia sangka, monster di dalam dirinya sudah tewas.

Anehnya, walaupun senang, Samidi tak merasa menang. Alih-alih mendapatkan ketenangan batin, Samidi justru merasa canggung. Ia tidak pede dengan apa yang saat ini ia sudah punyai. Sekarang ia sudah tidak penasaran lagi. Tetapi rasa puas yang ia tunggu-tunggu tak juga kunjung datang. Samidi justru merasa hampa. Setelah yang ia inginkan ia miliki, kemudian apa?

Barangkali, memang harus dipisahkan antara keasingan dan ketertarikan manusia terhadap se­suatu tersebut. Asingnya sesuatu tidak akan menjadi masalah bagi manusia ketika tidak disadari dan yang bersangkut­an tidak memiliki ketertarikan padanya. Namun ketika keduanya hadir, seperti pada kisah Nabi Adam dimana (1) ia sadar akan keberadaan pohon yang oleh Allah dilarang untuk didekati dan (2) pohon tersebut dibuat menarik hatinya, ‘keasingan’ kemudian menjadi celah yang membuat manusia bertindak di luar akal sehat. Dengan dalih untuk ‘mengetahui’, keasingan pun dikuasai dan dilucuti. Lebih aneh lagi, ketika kehampaan yang diterima, keasingan kemudian disuruh untuk bertanggungjawab atas ke-tidak masuk akal-an perilaku manusia. Inilah kiranya yang sedang Samidi alami. Kalau saja ia tidak menyadari keberadaan sesuatu tersebut, mungkin ketertarikan padanya tidak akan muncul dan keasingan yang ada padanya tak akan memaksa Samidi untuk berbuat sejauh ini.

Namun begitu, keasingan juga memiliki kekuatan untuk melipatgandakan. Ketika ia bertemu dengan prasangka dan kerapuhan, keasingan berubah menjadi kebencian dan permusuhan. Ketika ia bertemu dengan kesabaran dan ketulusan, keasingan berubah menjadi cinta dan kasih sayang.

“Ah, andai saja semudah itu!” batin Samidi. Kare­na seringkali, keasingan itu datang dengan rupa ber­makna ganda yang tak mudah dicerna. Setidak­nya, Samidi tahu bahwa keputusannya tidak tepat. Yang ia tidak tahu adalah bagaimana ia harus menyembu­nyikan ketidakberdayaannya. Kegalauan Samidi memaksanya untuk merenung­i doa Nabi Adam yang memohon ampun kepada Tuhan­nya, “Ya Tuhan kami, kami telah meng­a­niaya diri kami sendiri, jika Engkau tidak ampuni kesalah­an kami dan Engkau kasihi kami dengan karunia-Mu, niscaya kami akan termasuk golongan yang merugi.”

***

The allure of strangeness

Humans are not allured by what is known.

If anything, it is because things are unknown that they dare to fly to the moon.

Sometimes the burning passion between two lovers is not caused by what is known by each other, but by the unknownness of each other. It is the blanket of unfamiliarity makes experimentation a pleasurable journey.

The allure of strangeness is a struggle that they are constantly facing.

A world of unknowns that may have no ending.

Strangeness is a seducer so cunning. Its lure is to abandon what is certain in favour of knowing. Or rather, of conquering.

Behold! It might as well be that strangeness is responsible for the irrationality of human beings.

Strangeness amplifies things.

Coupled with prejudice and insecurity, strangeness turns into hatred and hostility. Coupled with tolerance and sincerity, strangeness turns into compassion and mercy.

But if only it is that easy. Many times, strangeness presents itself as an undecipherable ambiguity. And to pursue it is like chasing the shadow of one’s own insatiability.

***

Ingat dalam shalat

Tiba-tiba saja, seketika itu, pikiran Samidi seolah terbuka. Ingatannya bertambah tajam berkali-kali lipat. Daya pikirnya menjadi begitu jernih sebagaimana langit malam tanpa awan. Tentang kebuntuan hidup yang baru-baru ini menekannya, tak perlu lagi dia mencari-cari jawaban di tengah tebalnya kabut hitam. Pada saat itu, jelas nampak di depan matanya solusi apa yang harus ia segera lakukan. Samidi mendapatkan inspirasi.

Namun ia kembali ingat, saat ini ia sudah hampir ruku’. Diselesaikanlah segera bacaan surat pendeknya dan takbir pun diucap sambil mengge­rakkan badannya untuk ruku’.

Sejenak kemudian, pikiran Samidi kembali berontak: Tuhankah atau setan yang membukakan pikirannya beberapa saat yang lalu? Ia paham betul bahwa makna shalat itu adalah untuk mengingat Allah. Tapi kenapa yang muncul tadi justru jawab­an hidup atas persoalan dunianya? Apakah tadi jawaban Tuhan atas kekhusyu’annya? Ataukah tadi tipu daya setan yang membajak pikiran? “Khusyu’ kah shalat ku?”, itu pertanyaan yang terus bergema dalam benaknya. Apapun jawabannya, kejadian tadi telah sukses membuat Samidi gusar. Seusai shalat, ia tak kunjung beranjak. Ayat Qur’an surat Al Ma’ūn terngiang di kepalanya: “Maka celakalah mereka yang lalai dalam shalatnya”.

Jikalau itu Tuhan yang memberinya ‘inspirasi’, kok Tuhan humoris sekali. Kenapa dengan aku ingat aku justru menjadi lupa? Dan kalau betul itu dari Tuhan, kenapa inspirasi diberikan tidak segera setelah shalat? Seperti halnya transaksi jual-beli, selesai bayar barang didapat.

Yakinlah ia bahwa setan telah mengecohnya. Setan sangat suka ketika manusia mendua. Dan insiden ‘inspirasi’ tadi telah sukses membuat­nya mendua. Pada saat itu ia bukan lagi berdialog dengan Tuhan, namun dengan pikirannya sendiri. Samidi semakin yakin kalau itu adalah perbuatan setan ketika mendapati pikirannya kembali buthek seusai shalat. Benih-benih inspirasi yang tadi terlihat jelas seolah kembali bersembunyi dibalik tumpukan jerami. Samidi tidak ingat lagi ide apa yang tadi menjadi jawabannya. Ia merasa terkhianati oleh pikirannya sendiri. Atau mungkin lebih tepatnya, oleh setan yang membajak pikirannya.

Namun jika setan saja bisa membuat seolah-olah tirai jawaban permasalahan hidup tersibak walaupun hanya dalam jendela waktu sesingkat itu, maka bagaimana dengan kuasa Tuhan? “Mampukah Engkau membuka pikiranku menjadi begitu jernih?”, tanya Samidi setengah menantang. Agak kurang ajar memang pertanyaan Samidi ini dengan meragukan kemampuan Tuhan. Apalagi sampai membandingkan kekuatan-Nya dengan setan yang juga merupakan ciptaan Tuhan. Ia sebetulnya sudah yakin betul akan ke-Maha Kuasa-an Tuhan. Tetapi pertanyaan tersebut memiliki maksud lain, yang tak kurang sembrono mendikte Tuhan: “Jika memang Engkau kuasa, tunjukkanlah buktinya padaku sekarang.”

Seperti manusia pada umumnya, Samidi pun cenderung percaya dengan apa yang ada di depan matanya sekarang ketimbang apa yang tak terlihat dan masih nanti-nanti. Mungkin kecenderungan itu pula yang membuat umat-umat terdahulu menuntut para nabi untuk menunjukkan mukjizatnya untuk memvalidasi kebenaran nabi dan kebesaran Tuhan. Kali ini, Samidi tidak menuntut itu pada nabi. Ia meminta itu untuk dirinya sendiri.

Dirunutlah kembali secara kronologis kapan tepatnya pikirannya terbajak oleh setan. Dan yang lebih penting, kenapa hal itu bisa terjadi. Ia menduga, bisa jadi dirinya kurang berpasrah dalam shalatnya. Kurang ikhlas. Kurang meletakkan permasalahan dunianya. Kurang semeleh. Tapi, apakah hanya itu?

Shalat, bagi Samidi, bukanlah sesuatu yang ­a­sing. Sebaliknya, setiap hari ia selalu bertegur sapa dengannya. Kadang ia juga mengingatkan orang lain untuk shalat. Dan karena seringnya itu­lah yang membuatnya tak banyak berpikir tentang­nya. Tidak banyak berpikir dalam arti sudah hafal betul prosedur gerakan dan bacaan shalat. Ibarat seseorang yang sudah terampil bersepeda, ia tidak berpikir lagi bagaimana menjaga keseimbangan dalam setiap kayuhan. Pikirannya terbebas dari hal-hal teknis tersebut karena semuanya sudah berjalan secara otomatis. Shalatnya pun, dalam derajat tertentu, berjalan secara otomatis.

Kalau boleh menyalahkan setan lagi, pintar betul mereka dalam membuat kecohan. Dibuatnya seolah-olah jawaban padahal jebakan. Dibuatnya seolah-olah harapan padahal tipuan. Merasa kalah dengan setan, Samidi sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi shalat selanjutnya. Karena bisa jadi, yang sama bahayanya dengan kelalaiannya dalam shalat adalah keliaran ingatannya sendiri. •